CERPEN: DIBALIK VIDEO

DIBALIK VIDEO


 Pada suatu hari ada seorang laki-laki bernama Dian, dia adalah seorang siswa yang sangat pintar tetapi dia tidak mempunyai orang tua. Orang tuanya meninggal kecelakaan saat ia berumur sembilan tahun. Karena kepintarannya ia mendapat beasiswa kuliah di Universitas di Jakarta. Sambil kuliah Dian bekerja paruh waktu untuk dapat terus hidup,dia tidak hanya mengandalkan uang dari beasiswa saja. Sesudah sukses Dian merasa kesepian dan saat inilah yang paling tepat untuk mencari pasangan hidup. Dia bertemu seorang wanita bernama Adinda. Mereka bertemu di sebuah halte busway,walau Dian sudah sukses ia tetap sederhana dengan pergi ke kantor menggunakan kendaraan umum. Bermula disaat Dian sedang duduk tenang dalam busway tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita yaitu Adinda yang terjepit kakinya di pintu busway karena terburu-buru dan berdesak-desakan. Maklum inilah Jakarta yang ramai penduduk. Mendengar teriakan itu Dian dengan sigap menolong Adinda bersama petugas busway. Dari kejadian itu entah mengapa Dian merasa tertarik dengan sosok Adinda dan ingin lebih dekat dengannya. Mereka menjadi dekat. Makan siang bersama, nonton, dan berangkat bekerja bersama-sama. Semenjak itu Dian dan Adinda resmi berpacaran. Adinda itu adalah seorang wanita pengusaha pemilik toko bunga yang tak jauh dari tempat Dian bekerja, padahal Adinda adalah orang kaya walau dia kaya dia tetap sederhana, baik hati dan tidak sombong.
Dian sangat bahagia berpacaran dengan Adinda hingga suatu hari mereka sepakat untuk bertunangan. Setelah bertunangan itu entah mengapa Adinda jarang bertemu dengan Dian hingga suatu saat Adinda menghilang tak ada kabar. Ternyata Dian mendengar kabar dari temannya Raja bahwa Adinda meninggal dunia dan meninggalkan sebuah kaset dvd yang dititipkan pada Raja. Hingga saat ini kaset dvd itu belum pernah Dian menyetelnya. Dian merasa sedih dan kecewa karena ia tidak mengetahui pasti kondisi Adinda dan Dian merasa terpuruk karena wanita yang sangat ia cintai pergi selamanya. Dian tidak bisa menerima itu.
“Mengapa semua orang yang aku cinta dan aku sayangi meninggalkan aku Tuhan, kenapa?!”teriak Dian dalam kamar dia terus menangis sendirian. Dian menjadi sangat terpuruk, ia masih tidak bisa menerima kenyataan pahit yang menimpanya dan belum bisa mengikhlaskan kepergian Adinda.
            Setahun berlalu, hidup Dian kembali normal hanya saja dia belum bisa membuka hati untuk mencari pengganti sosok Adinda. Hingga pada suatu hari saat Dian sedang sarapan di sebuah kafe ada seorang wanita yang tidak sengaja tersandung dan menumpahkan segelas kopi di baju Dian. Wanita itu bernama Hilda, ia langsung meminta maaf dan membersihkan sisa tumpahan kopi itu, Dian memaafkannya. Sambil membersihkan sisa kopi Hilda bercerita bahwa dia sedang galau karena baru saja putus dengan pacarnya karena hilda diselingkuhi oleh teman dekatnya sendiri. Dari kejadian ini Dian dan hilda menjadi teman sekaligus teman curhat yang sama-sama memiliki masalah dan saling memberi solusi.
“Lantas mengapa kamu terpuruk Dian?” kata Hilda,
“Iya Adinda meninggalkan saya disaat saya benar-benar sayang sama dia” jawab dian dengan raut wajah sangat sedih.
“Iya permasalahan kita sama Di” sahut Hilda.
“Tapi Hilda saya sangat sedih dulu orang tua saya pun pergi meninggalkan saya saat saya masih kecil dan kini Adinda yang sangat saya sayangi itu juga pergi dan hanya menitipkan sebuah kaset yang sampai saat ini belum ingin saya lihat” jawab Dian.
“Mengapa kamu tidak ingin melihatnya? Kamu terlalu egois! Menyalahkan kepergian mereka yang membuat kamu menjadi terpuruk seperti ini” ucap Hilda denan sedikit kesal kepada sikap Dian.
“Tidak Hilda, saya tetap tidak mau melihatnya. Karena dia telah mengkhianati saya” jawab Dian dengan keras kepala lalu ia pergi meninggalkan Hilda.
Keesokan harinya, Hilda mendatangi rumah Dian dengan maksud mencari dvd itu dan menyetelnya agar Dian tidak terus terpuruk ditinggalkan oleh tunangannya itu dan tidak putus asa karena ditinggal orang-orang yang Dian sayang.
“Assalamu’alaikum?” ucap Hilda sambil mengetuk pintu rumah Dian.
“Wa’alaikumussalam, eh Hilda silahkan masuk” jawab Dian “sebentar ya saya buatkan minum dulu” lanjut Dian.
“Oh iyaa Dian, makasih ya ngerepotin nihh gue, Cuma mampir aja sih kebeneran lewat” kata Hilda berpura-pura.
“Engga ko Hil ga ngerepotin santai aja” jawab Dian sambil pergi ke dapur.
Saat Dian sedang sibuk di dapur, Hilda dengan lancang pergi ke kamar Dian untuk mencari dvd itu, akhirnya ditemukan di sebuah laci di kamarnya dengan cepat Hilda keluar kamar.
“Dian saya boleh nyetel dvd ga? Saya kebetulan bawa video film korea nih” teriak Hilda yang sudah berada di ruang tv.
“iya silahkan aja Hil” teriak Dian dari dapur. Setelah itu dian datang sambil membawa dua gelas es jeruk dan makanan ringan ke ruang tv.
“Hilda maaf ya sedikit lama buat es jus jeruknya nih, ini minumannya silahkan diminum” kata Dian.
“Oh iya makasih ya Dian” kata Hilda sambil memencet tombol close pada remot dvd dan video itu mulai.
“Lho itu kan Adinda??” ucap Dian dengan kaget.
“Sorry ya Dian saya lancang lho masuk kamar kamu buat ambil video ini biar kamu bisa tau apa isi dari dvd ini” sahut Hilda memastikan agar Dian tidak marah kepadanya. Akhirnya mereka melihat video itu, video itu ada Adinda yang sedang berbaring di kamar rumah sakit dengan menggunakan selang oksigen dan selang infus, Adinda terlihat sangat kritis. Di video itu Adinda berkata sambil meneteskan air mata kesedihan.
“Dian maafkan, akhir-akhir ini aku sering menghilang dari kamu dikarenakan aku harus terapi kanker aku ini yang semakin ganas, maaf selama ini aku ga bilang sama kamu soal penyakit aku sama kamu. Aku tau kamu sangat menyangi aku begitu pula dengan aku yang sangat sayang sama kamu. Aku harus pergi meninggalkanmu Dian. Maafkan aku.... Tapi Dian jangan jadikan kepergian aku ini membuat keadaan kamu menjadi terpuruk. Aku tau kamu bukan orang yang lemah dan kamu cerdas tak putus asa dan jangan pula kamu berfikir bahwa Tuhan ga adil dan berpikir bahwa orang yang meninggalkanmu tidak sayang kepadamu sama seperti kedua orang tua kamu, mungkin saat ini mereka ada bersama aku. Ini semua bukan kemauan tapi takdir, semoga kamu di sana hidup dengan baik dan mendapatkan pendamping yang baik juga. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidup aku. Maaf aku harus pergi....................” ucap Adinda di video itu.
Seketika suasana menjadi pecah, Dian sangat sedih melihat video ini mengetahui yang sebenarnya terjadi, begitu pula dengan Hilda dia tak pernah tau bahwa Adinda pergi untuk selamanya bukan karena mengkhianati Dian. Dian pun sadar bahwa kepergian mereka ini adalah sebuah takdir sebuah rencana Tuhan bukan juga membuat keterpurukan tapi harus membangkitkan. Akhirnya Dian bisa mengikhlaskan kepergian Adinda dan membuka hatinya kembali untuk menempuh hidup baru.
 ***TAMAT***



Komentar